Selasa, 09 Desember 2008

Terapi Insulin untuk Pasien DM Rawat Jalan

Terapi Insulin untuk Pasien DM Rawat Jalan

A. Indikasi terapi insulin untuk pasien DM rawat jalan

Masih terdapatnya beberapa kendala penggunaan insulin oleh dokter umum,sering
menyebabkan keterlambatan kendali glukosa darah yang baik bagi pasien diabetes melitus. Pasien DM Tipe 2 (DMT2) yang memiliki kontrol glukosa darah yang tidak baik dengan penggunaan obat antidiabetik oral perlu dipertimbangkan untuk penambahan insulin sebagai terapi kombinasi dengan obat oral atau insulin tunggal.
Insulin yang diberikan lebih dini dan lebih agresif menunjukkan hasil klinis yang lebih baik terutama berkaitan dengan masalah glukotoksisitas.Hal tersebut diperlihatkan oleh perbaikan fungsi sel beta pankreas. Insulin juga memiliki efek lain yang menguntungkan dalam kaitannya dengan komplikasi DM. Terapi insulin dapat mencegah kerusakan endotel,menekan proses inflamasi, mengurangi kejadian apoptosis,dan memperbaiki profil lipid. Dengan demikian,secara ringkas dapat dikatakan bahwa luaran klinis pasien yang diberikan terapi insulin akan lebih baik. Insulin, terutama insulin analog, merupakan jenis yang baik karena memiliki profil sekresi yang sangat mendekati pola sekresi insulin normal atau fisiologis.
Pada awalnya,terapi insulin hanya ditujukan bagi pasien diabetes melitus tipe 1 (DMT1), namun demikian pada kenyataannya, insulin lebih banyak digunakan oleh pasien DMT2 karena prevalensi DMT2 jauh lebih banyak dibandingkan DMT1.
Terapi insulin pada DMT2 dapat dimulai antara lain untuk pasien dengan kegagalan terapi oral,kendali kadar glukosa darah yang buruk (A1c > 7,5 % atau kadar glukosa darah puasa > 250 mg/dl), riwayat pankreatektomi atau disfungsi pankreas, riwayat fluktuasi kadar glukosa darah yang lebar, riwayat ketoasidosis, riwayat penggunaan insulin lebih dari 5 tahun dan penyandang DM lebih dari 10 tahun.

B. Memulai dan alur pemberian insulin

Pada pasien DMT1, pemberian insulin yang dianjurkan adalah injeksi harian multipel dengan tujuan mencapai kendali kadar glukosa darah yang baik. Selain itu, pemberian dapat juga dilakukan dengan menggunakan pompa insulin (continous subcutaneous insulin infusion, CSII).
Setiap pusat pelayanan memiliki alur terapi diabetes dan mula awal terapi insulin yang berbeda untuk para pasien DMT2. Alur yang dibuat oleh kesepakatan antara American Diabetes Association (ADA) dan European Association for the Study of Diabetes (EASD) yang dipublikasikan pada bulan Agustus 2006 dapat dipakai sebagai salah satu acuan.
Ada beberapa cara untuk memulai dan menyesuaikan dosis terapi insulin untuk pasien DMT2. Salah satu cara yang paling mutakhir dan dapat dipakai sebagai acuan adalah hasil Konsensus PERKENI 2006 dan Konsensus ADA-EASD tahun 2006. Sebagai pegangan, jika kadar glucosa darah tidak terkontrol dengan baik (A1C>7,5%) dalam jangka waktu 3 bulan dengan 2 obat oral, maka sudah ada indikasi untuk memulai terapi kombinasi obat antidiabetik oral dan insulin.
Pada keadaan tertentu dimana kendali glikemik Amat buruk dan disertai kondisi katabolisme, seperti kadar glucosa darah puasa > 250 mg/dl,kadar glucosa darah acak menetap > 300 mg/dl, A1C > 10 %, atau ditemukan ketonuria,maka terapi insulin dapat mulai diberikan bersamaan dengan intervensi pola hidup. Selain itu,terapi insulin juga dapat langsung diberikan pada pasien DM yang memiliki gejala nyata (poliuri,polifagia dan penurunan berat badan). Kondisi-kondisi tersebut sering ditemukan pada pasien DMT1 atau DMT2 dengan defisiensi insulin yang berat. Apabila gejala hilang, obat antidiabetik oral dapat ditambahkan dan penggunaan insulin dapat dihentikan.
Seperti telah diketahui,pada pasien DM terjadi gangguan sekresi insulin basal dan prandial untuk mempertahankan kadar glucosa darah dalam batas normal baik pada keadaan puasa maupun setelah makan. Dengan demikian bahwa hakikat pengobatan DM hádala menurunkan kadar glucosa darah baik puasa maupun setelah makan.
Dalam rangka mencapai sasaran pengobatan yang baik, maka diperlukan insulin dengan karakteristik menyerupai orang sehat, yaitu kadar insulin yang sesuai dengan kebutuhan basal dan prandial. Pemberian insulin basal,selain insulin prandial,merupakan salah satu strategi pengobatan untuk memperbaiki kadar glucosa darah puasa atau sebelum makan. Oleh karena glucosa darah setelah makan merupakan keadaan yang dipengaruhi oleh kadar glucosa darah puasa, maka diharapkan dengan menurunkan kadar glucosa darah basal, kadar glucosa darah setelah makan juga ikut turun.
Cara pemberian insulin basal dapat dilakukan dengan pemberian insulin kerja cepat drip intravena (hanya dilakukan pada pasien rawat inap), atau dengan pemberian insulin kerja panjang secara subkutan. Jenis insulin kerja panjang yang tersedia di Indonesia saat ini adalah salah satunya insulin detemir (nama patennya Levemir flexpen dari Novo).
Idealnya,sesuai dengan keadaan fisiologis tubuh, terapi insulin diberikan sekali untuk kebutuhan basal dan tiga kali dengan insulin prandial untuk kebutuhan setelah makan. Namun demikian,terapi insulin yang diberikan dapat divariasikan sesuai dengan kenyamanan penderita selama terapi insulin mendekati kebutuhan fisiologis. Walaupun banyak cara yang dapat dianjurkan, Namur prinsip dasarnya adalah sama; yaitu insulin prandial dikombinasikan dengan insulin basal dalam usaha untuk menirukan sekresi insulin fisiologis.

Sumber: PERKENI. Petunjuk Praktis. Terapi Insulin Pada Pasien Diabetes Melitus. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit DalamFKUI,Yakarta,2008. Hal. 9-12.




Jumat, 31 Oktober 2008

Selection and Use of Disinfectants in Healthcare

Each year in the United States there are approximately 27,000,000 surgical procedures and an even larger number of invasive medical procedures. For example, there are at least 10 million gastrointestinal endoscopies per year. Each of these procedures involves contact by a medical device or surgical instrument with a patient's sterile tissue or mucous membranes. A major risk of all such procedures is the introduction of infection. Failure to properly disinfect or sterilize equipment carries not only the risk associated with breach of the host barriers but the additional risk of person-to-person transmission (e.g., hepatitis B virus) and transmission of environmental pathogens (e.g., Pseudomonas aeruginosa).
Achieving disinfection and sterilization through the use of disinfectants and sterilization practices is essential for ensuring that medical and surgical instruments do not transmit infectious pathogens to patients. Since it is unnecessary to sterilize all patient-care items, healthcare policies must identify whether cleaning, disinfection, or sterilization is indicated based primarily on the items' intended use.
Multiple studies in many countries have documented lack of compliance with established guidelines for disinfection and sterilization. Failure to comply with scientifically based guidelines has led to numerous outbreaks. This article presents a pragmatic approach to the judicious selection and proper use of disinfection processes, based on well-designed studies assessing the efficacy (via laboratory investigations) and effectiveness (via clinical studies) of disinfection procedures.
DEFINITION OF TERMS
Sterilization is the complete elimination or destruction of all forms of microbial life and is accomplished in healthcare facilities by either physical or chemical processes. Steam under pressure, dry heat, ethylene oxide (ETO) gas, hydrogen peroxide gas plasma, and liquid chemicals are the principal sterilizing agents used in healthcare facilities. Sterilization is intended to convey an absolute meaning, not a relative one. Unfortunately, some health professionals as well as the technical and commercial literature refer to disinfectionâl as sterilizationâl and items as partially sterile. When chemicals are used for the purposes of destroying all forms of microbiologic life, including fungal and bacterial spores, they may be called chemical sterilants. These same germicides used for shorter exposure periods may also be part of the disinfection process (i.e., high-level disinfection).
Disinfection describes a process that eliminates many or all pathogenic microorganisms on inanimate objects with the exception of bacterial spores. Disinfection is usually accomplished by the use of liquid chemicals or wet pasteurization in healthcare settings. The efficacy of disinfection is affected by a number of factors, each of which may nullify or limit the efficacy of the process. Some of the factors that affect both disinfection and sterilization efficacy are the prior cleaning of the object; the organic and inorganic load present; the type and level of microbial contamination; the concentration of and exposure time to the germicide; the nature of the object (e.g., crevices, hinges, and lumina); the presence of biofilms; the temperature and pH of the disinfection process; and, in some cases, the relative humidity of the sterilization process (e.g., ETO).
By definition, then, disinfection differs from sterilization by its lack of sporicidal property, but this is an oversimplification. A few disinfectants kill spores with prolonged exposure times (3 to 12 hours) and are called chemical sterilants. At similar concentrations but with shorter exposure periods (e.g., 20 minutes for 2% glutaraldehyde), these same disinfectants kill all microorganisms with the exception of large numbers of bacterial spores and are called high-level disinfectants. Low-level disinfectants may kill most vegetative bacteria, some fungi, and some viruses in a practical period of time (10 minutes), whereas intermediate-level disinfectants may be cidal for mycobacteria, vegetative bacteria, most viruses, and most fungi, but do not necessarily kill bacterial spores. The germicides differ markedly among themselves primarily in their antimicrobial spectrum and rapidity of action.
Cleaning, on the other hand, is the removal of visible soil (e.g., organic and inorganic material) from objects and surfaces, and it normally is accomplished by manual or mechanical means using water with detergents or enzymatic products. Thorough cleaning is essential before high-level disinfection and sterilization since inorganic and organic materials that remain on the surfaces of instruments interfere with the effectiveness of these processes. Decontamination is a procedure that removes pathogenic microorganisms from objects so they are safe to handle, use, or discard.
The suffix -cide or -cidal indicates a killing action. For example, a germicide is an agent that can kill microorganisms, particularly pathogenic microorganisms (germs). The term germicide includes both antiseptics and disinfectants. Antiseptics are germicides applied to living tissue and skin, whereas disinfectants are antimicrobials applied only to inanimate objects. In general, antiseptics are used only on the skin and not for surface disinfection, and disinfectants are not used for skin antisepsis, because they may cause injury to skin and other tissues. Other words with the suffix -cide (e.g., virucide, fungicide, bactericide, sporicide, and tuberculocide) can kill the type of microorganism identified by the prefix. For example, a bactericide is an agent that kills bacteria.

Reference : Rutala WA and Weber DJ. Selection and Use of Disinfectants in Healthcare. In Hospital Epidemiology and Infection Control, 3rd Edition. Editors: Mayhall, C. Glen. Copyright ©2004 Lippincott Williams & Wilkins.



Kamis, 30 Oktober 2008

Evidence-based infectious diseases

The field of infectious diseases, or more accurately the importance of illness due to infections,
played a major role in the development of epidemiological research in the 19th and early 20th centuries. Classical observational epidemiology was derived from studies of epidemics – infectious diseases such as cholera, smallpox, and tuberculosis. Classical epidemiology was nevertheless action-oriented.
For example, John Snow’s observations regarding cholera led to his removal of the Broad Street pump handle in an attempt to reduce the incidence of cholera. Pasteur, on developing an animal vaccine for anthrax, vaccinated a number of animals with members of the media in attendance.4 When unvaccinated animals subsequently died, while vaccinated animals did not, the results were immediately reported throughout Europe’s newspapers. In the era of clinical epidemiology, it is notable that the first true randomized controlled trial is widely attributed to Sir Austin Bradford Hill’s 1947 study of streptomycin for tuberculosis.5 In subsequent years, and long before the “large simple trial” was rediscovered by the cardiology community, large-scale trials were carried out for polio prevention, and tuberculosis prevention and treatment. Having led the developments in both classical and clinical epidemiology, is current infectious diseases practice evidence-based? We believe the answer is “somewhat”. We have excellent evidence for the efficacy and side effects of many modern vaccines, while the acceptance of before-after data to prove the efficacy of antibiotics for treating bacterial meningitis is ethically appropriate. In the field of HIV medicine we have very strong data to support our methods of diagnosis, assessing prognosis and treatment, as well as very persuasive evidence supporting causation. However, in treating many common infectious syndromes – from sinusitis and cellulitis to pneumonia – we have many very basic diagnostic and therapeutic questions that have not been optimally answered. How do we reliably diagnose pneumonia? Which antibiotic is most effective and cost-effective? Can we improve on the impaired quality of life that often follows such infections as pneumonia? While virtually any patient presenting with a myocardial infarction will benefit from aspirin and thrombolytic therapy, there may not be a single “best” antibiotic for pneumonia. Much of the “evidence” that guides therapy in the infectious diseases, particularly for bacterial diseases, may not be clinical, but exists in the form of a sound biologic rationale, the activity of the antimicrobial against the offending pathogen and the penetration at the site of infection (pharmacodynamics and pharmacokinetics). Still, despite having a sound biologic basis for choice of therapy, there are many situations where better randomized controlled trials need to be conducted and where clinically important outcomes, such as symptom improvement and health-related quality, are measured. How, then, can we define “evidence-based infectious diseases” (EBID)? Paraphrasing David Sackett, EBID may be defined as “the explicit, judicious and conscientious use of current best evidence from infection diseases research in making decisions about the prevention and treatment of infection of individuals and populations”. It is an attempt to bridge the gap between research evidence and the clinical practice of infectious diseases. Such an “evidence-based approach” may include critically appraising evidence for the efficacy of a vaccine or a particular antimicrobial treatment regimen. However, it may also involve finding the best evidence to support (or refute) use of a diagnostic test to detect a potential pathogen. Additionally, EBID refers to the use of the best evidence to estimate prognosis of an infection or risk factors for the development of infection. EBID therefore represents the application of research findings to help answer a specific clinical question. In so doing, it is a form of knowledge transfer, from the researcher to the clinician. It is important to remember that use of research evidence is only one component of good clinical decision-making. Experience and clinical skills are essential components. EBID serves to inform the decision-making process.For the field of infectious diseases, a sound knowledge of antimicrobials and microbiologic principles are also needed.


Sumber : Loeb Mark, Smieja Marek, Smaill Fiona . Introduction to evidence-based infectious diseases. In EVIDENCE-BASED INFECTIOUS DISEASES. © BMJ Publishing Group Ltd 2004,p.1-2 

Sabtu, 18 Oktober 2008

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW

Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah. “Siapakah itu wahai anakku?”“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan. Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh. Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling. Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Sumber :
http://minangdanbroadcast.multiply.com/journal/item/146/Detik-detik_Sakaratul_Maut_Rasulullah_SAW

Minggu, 12 Oktober 2008

ePharma Physician v8.0 : Dokter mengharapkan waktu lebih untuk bergeser ke Pelayanan Profesional Online

Kalbe.co.id - Menurut studi Kalbe.co.id - ePharma Physician® yang dikeluarkan oleh Manhattan Research, para dokter melaporkan bahwa mereka menggeser waktu yang cukup bermakna berkaitan dengan sumber profesional offline menjadi online beberapa tahun mendatang. Studi yang berfokus pada opini dan penggunaan oleh dokter mengenai informasi farmasi dan bioteknologi online dan data fitur cakupan luas ilmu pengetahuan dari perusahaan-perusahaan termasuk Merck, AstraZeneca, Biogen, Astellas, Daiichi Sankyo, Sepracor dan Eisai.

Survei tahun ini menemukan bahwa para dokter menginginkan menerima kebanyakan informasi produk peralatan dan farmasi melalui online dan sumber elektronik lainnya. Saat ini, para dokter melakukan 41% penelitian farmasi mereka online, tapi berharap meningkatakan persentase melebihi 50% di masa mendatang.

Mark bard, Presiden Manhattan Research mengatakan bahwa trend ini membuktikan adanya kesempatan bagi perusahaan farmasi dan biotek kecil dan khusus untuk mendapat pijakan melawan kompetitor besar dalam mencapai dokter dan pangsa pasar melalui sales digital efektif biaya dan strategi pendukung marketing. Kanal digital telah mendapat tempat di berbagai industri, membuat kelompok sales dan marketing kesempatan membuat dampak besar walaupun sumber daya terbatas.

Jurnal-jurnal online dan konferensi virtual adalah 2 sumber profesional lain yang akan menjadi lalu lintas utama dokter di masa mendatang. Studi menemukan bahwa dokter mengharapkan kelonggaran waktu menggunakan jurnal cetak dan konferensi langsung dibandingkan versi online-nya. Pasar untuk sumber klinis online telah tumbuh cepat dalam 5 tahun terakhir, beberapa perusahaan mengambil kesempatan dengan meningkatkan tawaran interaktif mereka dengan para dokter. Penebit medis Elsevier melansir WiserWiki tahun 2008 bagi para dokter untuk berkontribusi dan memutakhirkan data klinis secara kolaborasi, dan para dokter diharapkan melihat lebih banyak alat inovasi seperti ini dilansir di masa depan.
Sumber : http://www.kalbe.co.id/print_version.php?mn=news&detail=19767

Sabtu, 11 Oktober 2008

Problem Based Learning

Kalbe.co.id - Medicine 2.0 Congress telah berlangsung awal September 2008 yang lalu. Abstrak penelitian dan presentasi dapat ditelusuri di situs resminya, Medicine 2.0 Congress. Beberapa hasil presentasi menyajikan pengalaman penerapan teknologi Internet, perangkat bergerak dan layanan berbasis web terkait bidang kedokteran. Bisa kita gunakan sebagai cermin untuk pemelajaran (bukan pembelajaran kan..?) bersama.

Beberapa cuplikan abstrak diantaranya:

Singapura memiliki visi mengembangkan portal web kesehatan nasional sebagai suatu multi layanan. Akan ada informasi kesehatan serta perangkat pengawasan dan pencegahan dalam rangka pengelolaan kesehatan pribadi.

Pada abstrak lainnya, suatu layanan konsultasi kesehatan secara umum, ditemukan pengguna wanita lebih banyak menggunakan jasa dokter praktik umum (wanita lebih rasional?). Sedangkan pria lebih banyak dalam pemanfaatan konsultasi elektronik via e-mail (pria lebih terpapar teknologi?).

Sebagian besar konsultasi e-mail memang tidak menghasilkan diagnosis. Karena tidak memenuhi prosedur diagnostik umumnya (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang). Bagaimana jika pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara virtual? Penyakit/kondisi kesehatan yang sering dikonsultasikan diantaranya penyakit metabolik seperti diabetes (kencing manis), kehamilan dan masalah sistem reproduksi pria. Apakah hal yang sama terjadi pada sejawat lainnya?

Kebanyakan hal yang disajikan pada Kongres Medicine 2.0 2008 tersebut terkait dengan Internet. Walaupun koneksi Internet di negara kita masih belum memadai, cepat atau lambat akan makin banyak yang membutuhkan, terutama untuk akses data.

Pengguna yang memanfaatkan Internet untuk mencari informasi kesehatan/kedokteran (’Internet health seeker’) dinyatakan makin meningkat secara kuantitas. Sejalan juga dengan beragamnya informasi yang tersedia. Kualitas menjadi masalah berikutnya. Keterlibatan sejawat bidang kesehatan/kedokteran dan teknologi yang terjun ke dunia Internet diharapkan mampu menjawab masalah kualitas tersebut. Beliau-beliau dapat membantu menyaring informasi yang berkualitas sesuai kaidah keilmuannya dan menyajikannya sehingga lebih mudah dicerna dan diakses (aksesibel) via halaman web.

Di era Medicine 2.0, Health 2.0 atau apapun istilahnya, pembaca informasi kesehatan/kedokteran, baik kalangan medis dan non medis, dapat langsung bertindak selaku penyedia informasi. Mereka membuat isi/muatan (’content’) atau menulis informasi tersebut dari hasil penelusuran kepustakaan dan pengalaman pribadi. Lalu memuatnya via blog, wiki, podcast. Begitu cepat informasi kesehatan/kedokteran akan tersebar. Kadang tidak disertai sumber acuan yang jelas, terkait dengan kedokteran berbasis bukti (’evidence based medicine’).

Tantangan untuk para pencari informasi kesehatan/kedokteran memilah informasi yang berkualitas. Di Internet banyak tersedia panduan untuk menilai kualitas informasi kesehatan yang tersaji di dunia maya ini.

Siapa tahu nanti wiki kesehatan/kedokteran yang termoderasi oleh para ahli di bidangnya dapat diterima lebih luas di kalangan akademisi. :)

Begitu juga dengan situs web/blog kesehatan/kedokteran di tingkat nasional. Selama ini saya masih kesulitan menemukan situs web/blog kesehatan/kedokteran dalam negeri, selain dikelola rekan sejawat, yang bisa dijadikan acuan. Pembaca mungkin punya rekomendasi tersendiri…

Taken from: Medicine 2.0 Congress - Belajar dari Pengalaman by Dani Iswara (Dani Iswara .Net).

Senin, 06 Oktober 2008

CHIKUNGUNYA DISEASE


Kata "chikungunya" berasal dari bahasa Swahili (Afrika) yang berarti menekuk, mencerminkan gaya tubuh/posisi penderita pada saat merasa nyeri sendi yang hebat. Demam Chikungunya adalah penyakit di daerah tropis seperti Asia dan Afrika. Penyakit itu pertama kali dikenal tahun 1952 di Afrika Timur. Meskipun ada juga yang mengatakan bahwa sekitar tahun 1779 telah ditemukan gejala seperti itu di Batavia.
Penyebab
Arbovirus famili Togaviridae genus Alpha virus, dengan perantaraan nyamuk Aedes.
Faktor Risiko
Perubahan musim hujan, ketika banyak air yang tergenang.
Patofisiologi
Demam Chikungunya mempunyai masa inkubasi (periode sejak digigit nyamuk pembawa virus hingga menimbulkan gejala) sekitar 2 hingga 4 hari. Setelah masa inkubasi tersebut, gejala yang ditimbulkan -mirip dengan gejala penyakit Demam Berdarah- adalah demam tinggi (39 - 40 derajat Celsius), menggigil, dan sakit kepala.
Gejala dan Tanda
Gejala yang paling menonjol pada kasus ini adalah nyeri pada setiap persendian (poliarthralgia) terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi tulang punggung. Radang sendi yang terjadi menyebabkan sendi susah untuk digerakkan, bengkak dan berwarna kemerahan. Itulah sebabnya postur tubuh penderita menjadi seperti membungkuk dengan jari-jari tangan dan kaki menjadi tertekuk (chikungunya).
Gejala lain adalah munculnya bintik-bintik kemerahan pada sebagian kecil anggota badan, serta bercak-bercak merah gatal di daerah dada dan perut. Muka penderita bisa menjadi kemerahan dan disertai rasa nyeri pada bagian belakang bola mata. Meskipun gejala penyakit itu bisa berlangsung 3-10 hari (kemudian sembuh dengan sendirinya), tetapi tidak dengan nyeri sendinya yang bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Komplikasi
Perbedaan utama dengan penyakit demam berdarah adalah soal kefatalannya yang menyebabkan kematian. Penyakit demam Chikungunya adalah penyakit yang jarang menyebabkan kematian. Perbedaan lain adalah demam Chikungunya bisa menginfeksi seluruh anggota keluarga.
Juga serangan demam Chikungunya mendadak dengan masa demam lebih pendek, suhu lebih tinggi, dan hampir selalu disertai bintik-bintik kemerahan, mata merah, dan lebih sering dijumpai nyeri sendi (bukan kelumpuhan). Pada demam Chikungunya hampir tidak pernah terjadi perdarahan organ dalam seperti pada saluran cerna atau pun syok karena perdarahan.Persamaannya adalah uji tourniquet bisa positif, dan timbul bintik-bintik perdarahan, serta mimisan
Pencegahan
Satu-satunya cara menghindari gigitan nyamuk karena vaksin demam Chikungunya belum ada, adalah dengan mencegah kita digigit nyamuk Aedes. Selain itu bisa dilakukan pemberantasan vektor nyamuk dewasa maupun membunuh jentik nyamuk. Pemberantasan vektor nyamuk dewasa bisa dilakukan dengan racun serangga atau pengasapan/fogging dengan malathion sedangkan abatisasi digunakan untuk memberantas jentik pada TPA (tempat penampungan air). Sarang nyamuk diberantas dengan cara PSN.
Abatisasi Tujuan abatisasi agar kalau sampai telur nyamuk menetas, jentik nyamuk tidak akan menjadi nyamuk dewasa. Semua TPA yang ditemukan jentik Aedes aegypti ditaburi bubuk abate sesuai dengan dosis satu sendok makanan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air. Bubuk abate juga dituang di bak mandi. Konsekuensinya, kita jangan menyikat bak/TPA tersebut selama kurang lebih tiga bulan karena lapisan abate yang sudah terbentuk di dinding, yang berpotensi membunuh jentik nyamuk mampu bertahan sampai tiga bulan. Jika dinding TPA/bak mandi disikat sebelum tiga bulan, lapisan abate akan terkelupas dan hilang. Meskipun abatisasi bisa dilakukan di semua tempat penampungan air, secara bijaksana kita bisa melakukan abatisasi di tempat-tempat yang berpotensi nyamuk bersarang dan bertelur besar. Yaitu di tempat-tempat yang jarang digunakan atau diganti airnya. Untuk tempat-tempat lain bisa dilakukan pengurasan setiap tiga hingga tujuh hari.
Pemberantasan Sarang Nyamuk PSN adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik nyamuk Aedes dengan cara 3M, yaitu sebagai berikut :a. Menguras secara teratur, terus-menerus seminggu sekali, mengganti air secara teratur tiap kurang dari seminggu pada vas bunga, tempat minum burung, atau menaburkan abate ke TPA b. Menutup rapat-rapat TPAc. Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik dan barang-barang lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk. d. Khusus di tempat pasca-kebakaran (seperti Pasar Tanah Abang) harus segera dibersihkan dari wadah-wadah yang bisa menampung air. 4. Proteksi diri dengan salep atau gunakan kawat nyamuk Tidak seperti nyamuk-nyamuk yang lain, nyamuk itu menggigit pada siang hari. Untuk mencegahnya kita bisa menggunakan salep atau minyak yang dioles di bagian tubuh yang terbuka. Selain menggunakan salep untuk mencegah gigitan nyamuk, kita bisa menggunakan minyak sereh. Cara lain adalah dengan menggunakan kawat nyamuk di pintu-pintu dan jendela rumah.
Bersihkan halaman dan kebun di sekitar rumah Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Dengan melakukan hal-hal di atas, sebenarnya kita sudah melakukan perlindungan tidak hanya pada demam Chikungunya tetapi juga demam berdarah yang lebih fatal dan mematikan. Tidak mustahil penyakit Demam Chikungunya datang bersama-sama dengan penyakit demam berdarah. Penatalaksanaan
Umumnya penyakit virus adalah penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Begitu pula dengan penyakit demam Chikungunya. Dalam waktu 10 hingga dua minggu penderita sudah akan sembuh. Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan simptomatik, yaitu hanya mengurangi gejalanya saja seperti gejala demam diberi obat penurun panas, gejala nyeri sendi juga bisa diberikan obat pengurang nyeri, dan lain-lain.
Disarankan juga agar penderita banyak beristirahat dan konsumsi makanan yang bergizi, agar bisa mempercepat penyembuhan. Obat golongan vitamin bisa digunakan untuk itu menambah daya tahan tubuh. Untuk perawatan di rumah, penderita dianjurkan untuk banyak minum, jika demamnya tinggi bisa kompres untuk menurunkan panas.

Sabtu, 04 Oktober 2008

Kontrol Kadar Glukosa, Turunkan Risiko Kardiovakular Pasien Diabetes

Prevalensi diabetes semakin meningkat. Bukan itu saja kabar buruknya. Sebagian besar penderita diabetes akan meninggal akibat komplikasi kardiovakular. Ini bukan sekadar gertakan semata. Studi-studi prospektif yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa kadar glukosa dan hemoglobin glikat dalam darah berkaitan dengan risiko kejadian vaskular mayor.

Namun studi RCT yang pernah dilakukan untuk mengevaluasi efek kontrol glikemik pada pasien diabetes menunjukkan bukti yang tidak konsisiten terhadap penyakit vaskular. Jadi bisa dikatakan, pada pasien diabetes melitus tipe 2, efek kontrol kadar glukosa dalam darah terhadap kardiovakular masih belum jelas. Namun begitu, guideline terbaru merekomendasikan taget nilai hemoglobin glikat atau sering disebut juga dengan HbA1c adalah sebesar 7,0% atau kurang pada pasien diabetes.

Efek penurunan kadar HbA1c dalam darah terhadap komplikasi kardiovakular mayor yang sesungguhnya bisa dilihat pada studi ADVANCE (Action in Diabetes and Vascular Disease: Preterax and Diamicron Modified Release Controlled Evaluation). Dalam studi ini, target penurunan HbA1c ditetapkan sebesar 6,5% atau kurang pada pasien diabetes melitus tipe 2.

ADVANCE dilakukan di 215 center yang tersebar di 20 negara Asia, Australasia, Eropa, dan Amerika Utara. Ada 11.140 pasien diabetes melitus tipe 2 yang memenuhi syarat dilakukan pengacakan. Mereka kemudian dibagi dalam dua kelompok. Sebanyak 5.571 orang menjalani kontrol kadar gula darah secara intensif, dan 5.569 menjalani kontrol

gula darah standar. Kontrol gula darah secara intensif dilakukan dengan pemberian gliklazid (modified release/MR 30-120 mg per hari) ditambah obat-obat lain yang dibutuhkan (metformin,TDZ, akarbose atau insulin) agar kadar HbA1c mencapai 6,5% atau kurang.

Pasien yang masuk kriteria adalah mereka yang terdiagnosa diabetes di usia 30 atau lebih dan saat studi dimulai minimal berusia 55 tahun. Mereka setidaknya memiliki riwayat penyakit makrovaskular mayor atau penyakit mikrovaskular, atau setidaknya memiliki satu risiko tambahan penyakit vaskular.

Tujuan utama studi adalah melihat gabungan kejadian makrovaskular dan gabungan kejadian mikrovaskular, baik dikombinasikan maupun secara terpisah. Kejadian makrovaskular didefinisikan sebagai kematian karena penyebab kardiovaskular, infark miokardial nonfatal, atau stroke nonfatal. Sedangkan kejadian mikrovaskular didefinisikan sebagai berkembangnya nefropati dan retinopati baru atau perburukan.

Perburukan nefropati diindikasikan dengan adanya makroalbuminuria, di mana rasio albumin:kreatinin dalam urin lebih dari 300µg albumin per miligram kreatinin, atau kadar kreatinin serum minimal 200 µmol per liter. Selain itu ada kebutuhan terapi penggantian ginjal, atau kematian akibat penyakit ginjal. Sedangkan untuk retinopati, didefinisikan sebagai perkembangan retinopati proliferasi, edema makular, atau kebutaan terkait diabetes, dan kebutuhan melakukan terapi fotokoagulasi retina.

Penurunan mikro dan makrovaskular

Hasil studi ADVANCE menunjukkan, strategi kontrol glukoksa secara intensif dengan melibatkan gliklazid MR, ditambah obat lain yang dibutuhkan, bisa menurunkan rata-rata kadar HbA1c hingga 6,5% pada pasien diabetes melitus tipe 2, dan menurunkan hasil akhir utama (primary outcome) dalam hal insiden kejadian mikrovaskular atau makrovaskular. Kontrol HbA1c secara intensif menurunkan primary outcome berupa kombinasi kejadian makrovaskular dan mikrovaskular mayor sebesar 10%.

Kontribusi utama hingga terjadi 10% penurunan primary outcome pada kelompok kontrol glukosa secara intensif dibandingkan terapi standar diperoleh dari 21% penurunan risiko nefropati baru atau memburuk.

Dibandingkan dengan kelompok terapi standar, terapi secara intensif menghasilkan penurunan yang signifikan dalam insiden kejadian mikrovaskular mayor, meskipun tidak dalam kejadian makrovaskular. Untuk kejadian makrovaskular, tidak ada efek signifikan dari dua tipe kontrol glukosa. Demikian pula dalam hal kematian karena penyebab kardiovaskular, atau kematian karena sebab apapun. Hipoglikemia berat, meskipun tidak biasa, lebih sering ditemukan pada kelompok kontrol kadar glukosa secara intensif,yakni 2,7% berbanding 1,5% pada kelompok kontrol kadar glukosa standar.

Peneliti berkesimpulan, strategi kontrol glukosa secara intensif, dengan melibatkan glikazid MR dan penambahan obat-obat lain yang dibutuhkan, akan menurunkan nilai hemoglobin glikat hingga 6,5% dan menghasilkan 10% penurunan kombinasi kejadian makrovaskular dan mikrovaskular mayor. Hasil yang paling signifikan adalah penurunan kejadian nefropati baru atau memburuk sebesar 21%.

Signifikan pada ginjal

Kontrol glukosa secara intensif, seperti diperlihatkan studi ADVANCE amat signifikan dalam menghambat laju penyakit ginjal terutama nefropati. Dalam studi ini, ada penurunan sebesar seperlima dalam hal perkembangan nefropati baru atau perburukan nefropati serta penurunan onset baru mikroalbuminuria yang signifikan.

Padahal dalam studi diabetes yang amat terkenal di Inggris, yakni United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS), kontrol glukosa dalam darah dengan ketat pada pasien diabetes melitus tipe 2 tidak menurunkan insiden penyakit ginjal, meskipun ada bukti penurunan perkembangan mikroalbuminuria dan proteinuria yang nyata.

Penurunan secara nyata nefropati dalam studi ADVANCE ini amat penting, karena indeks kerusakan ginjal amat kuat kaitannya dengan risiko kejadian vaskular mayor, penyakit ginjal tahap akhir, dan kematian pasien diabetes di masa depan.

Studi ADVANCE tidak menunjukkan efek signifikan dari kontrlo kadar glukosa secara intensif terhadap kejadian makrovaskular. Meskipun hasil-hasil studi mengindikasikan penurunan kadar glukosa hingga mencapai nilai HbA1c sebesar 6,5% tidak menurunkan risiko kejadian kardiovaskular, namun hasil studi ini tidak menutup adanya manfaat dari perbedaan nyata antara kontrol kadar glukosa secara intensif dan standar.

Studi-stusi observasional telah menyatakan, ada kaitan antara antara hemoglobin glikat dan kejadian kardiovaskular. Demikian pula meta analisis dari studi-studi RCT tentang kontrol kadar glukosa yang menyatakan bahwa penurunan 0,7% nilai hemoglobin glikat bisa dijadikan harapan adanya penurunan angka kejadian makrovaskular sekitar seperenam. Dilihat dari confidence intervals untuk perkiraan efek terapi terhadap kejadian makrovaskular, studi ADVANCE sebenarnya konsisiten dengan penurunan kejadian makrovaskular. Sayangnya dalam studi ini tidak ada data statistik yang kuat untuk mendeteksi efek tersebut secara nyata.

Angka kejadian makrovaskular dalam setahun (2,2%) lebih rendah dibandingkan yang diantisipasi, yakni 3,0%, berdasarkan studi-studi pada pasien diabetes melitus sebelumnya. Kemungkinan hasil studi ini meupakan dampak dari penggunaan lebih besar ari statin, obat-obat penurun tekanan darah, dan agen antiplatelet.

Pada akhirnya menjadi jelas, bahwa pencegahan komplikasi makrovaskular pada pasien diabetes membutuhkan pendekatan multifaktoral, dengan target semua faktor risiko termasuk tekanan darah dan lemak darah. Manfaat utama yang ditunjukkan gliklazid MR dalam studi ADVANCE adalah penurunan hingga seperlima komplikasi ginjal. Hal ini mengindikasikan bahwa kontrlo kadar glukosa secara intensif memegang peran penting dalam pencegahan komplikasi makrovaskular pasien diabetes tipe 2.

Sumber : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=915

Puasa Aman untuk Penderita Penyakit Kronis

Puasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban bagi kaum muslim. Namun pada kondisi tertentu, umat Islam diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang lanjut usia atau tengah menderita sakit. Namun ada kiat khusus bagi penderita penyakit kronis ataupasien geriatri agar mampu menjalankan puasa dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan.
Beberapa waktu lalu menjelang bulan puasa, Depertemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI mengadakan seminar Tetap Sehat dan Bugar selama Puasa. Puasa berarti membatasi jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Berbagai penelitian pada binatang menunjukkan bahwa pembatasan kalori bisa memperpanjang usia harapan hidup, meningkatkan kesehatan secara umum, menurunkan risiko berbagai penyakit dan sebagainya.
Untuk pasien geriatri, DR. Dr. Siti Setiati SpPD, KGer, MEpid, menjelaskan cara aman untuk kaum sepuh berpuasa. Survei Poliklinik Geriatri RSCM menunjukkan, sebagian besar pasien geriatri berpuasa di bulan Ramadhan, jumlahnya mencapai 76,50%. Mereka adalah pasien berusia 64-83 tahun dengan penyakit hipertensi, osteoartritis, diabetes melitus, menderita instabilitas dan penyakit arteri koroner.
Kebutuhan kalori pasien geriatri saat puasa sama dengan ketika tidak berpuasa. Untuk mencukupi kebutuhan kalori selama puasa, Siti Setiati menyarankan, pada saat sahur minimal tubuh mendapat 40% kalori, saat buka 50% kalori, dan sesudah tarawih 10% kalori. Yang perlu diperhatikan, adalah jangan sampai kekurangan cairan. Konsumsi cairan minimal 30-50 cc/kg BB/hari atau 8-10 gelas yang bias didapatkan saat buka, sahur maupun waktu sebelum tidur dan sesudah shalat tarawih. HIndari minum the/kopi karena akan memperbanyak kencing.
Dr. Dante Saksono Herbuwono dari Divisi Metabolik Endokrin menjelaskan puasa pada penderita diabetes melitus. Pada pasien DM, puasa akan merubah beban kerja sisitem metabolisme energi dan lemak. Puasa juga akan menurunkan gula puasa dan insulin. Pada pasien DM, energi saat puasa diperoleh dari cadangan energi melalui pembakaran lemak, cadangan di otot dan produksi di hati. Dengan begitu, kebutuhan energinya terpenuhi.
Untuk obat-obatan diabetes, perlu dilakukan penyesuaian dosis dan waktu pemberian. Bagi yang memerlukan suntikan insulin dua kali atau lebih disarankan tidak berpuasa. Pemantauan kadar gula harus terus dilakukan untuk mewaspadai kemungkinan hipoglikemia.
Selaian usia lanjut dan penderita diabetes, penderita gangguan lambung atau sakit maag kadang juga tidak berpuasa. Pada saat berpuasa, terutama setelah 6-8 jam kosong, akan terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala sakit maag. Padahal, menurut Dr Ari Fahrial Syam SpPD, KGEH, penderita sakit maag dapat berpuasa terutama bila sakit maagnya hanya gangguan fungsional. Pasien sakit maag fungsional biasanya sakit maagnya timbul akibat makan tidak teratur, kebiasaan makan camilan berminyak dan minum minuman bersoda, dan juga merokok. Justru dengan puasa makannya menjadi teratur, dan kebiasaan makan tidak segat bias dihindari. Dengan demikian selama berpuasa penderita sakit maag fungsional akan lebih sehat dan keluhan sakit maagnya berkurang.
Diet sehat untuk penderita gangguan lambung selama puasa adalah, menghindari makanan yang banyak mengandung gas (nangka, kol), makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung (kopi, minuman bersoda, alkohol), makanan yang sulit dicerna, makanan yang bisa merusak dinding lambung (cuka, merica, cabai), dan makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan (alkohol, coklat, makanan berlemak).
(ana)
Sumber : http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_finenews.asp?IDNews=131

Rabu, 28 Mei 2008

Selamat Hari Lansia 29 Mei

Karena tidak memiliki Nilai bisnis maka Hari Lansi (HALUN) tidak segebyar dengan Valentine Day ataupun April Move.Hari Lanjut usia international (International Day of older Persons) ditetapkan Sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No.45/106 tanggal 14 Desember 1990. Penetapan hari Lansia international merupakan kelanjutan dari Vienna international Plan Action on Aging (“Vienna Plan”) yang diputuskan di Wina tahun 1982 dengan resolusi No. 37/1982 yang melahirkan kesepakatan untuk mengundang bangsa-bangsa yang belum melaksanakan agar menetapkan hari bagi lanjut usia.Hari Lanjut Usia Nasional dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soharto di Semarang pada tanggal 29 Mei 1996 untuk menghormati jasa Dr.KRT Radjiman Wediodiningrat yang usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI).Mengapa kita perlu menggebyarkan hari lansia, ada banyak semangat/spirit dan keteladan yang perlu kita tiru dari lansia. Pelukis ternama almahrum affandi di usia 80-an masih terus aktif melukis, Prof Dr Boedi Darmojo masih aktif cermah dimana-mana termasuk luar negeri, walaupun usianya diatas 80 tahun, beberapa tokoh international seperti Gladststone memimpin kabinet inggris dalam usia 80 tahun. Plato meningal dunia dalam usia 80 tahun sedang giat bekerja. Galileo menemukan ilmu gaya gerak (gerak) dalam usia 70 tahun. James watt ahli ilmu alam Inggris mempelajari bahasa Jerman dalam usia 85 tahun, Bertrand Ruessel pada usia 94 tahun masih aktif sebagai tokoh penggerak perdamaian international (Soemartono,Suara Merdeka:29 Mei 2005). Soebronto Laras (65) merupakan tokoh personifikasi Suzuki Indonesia, Aksa Mahmud yang kini usia telah 63 tahun masih aktif sebagai pengusaha dan anggota DPD utusan Sulawesi Selatan.KH.Ali Yafie ulama ahli fiqih yang kini berusia 82 tahun masih aktif mengasuh beberapa pesantren di sulawesi selatan, Sebagai dosen diberbagai perguruan tinggi seperti Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-qur’an, UIN Syarif Hidayatullah,aktif sebagai Dewan Penasehat ICMI dan Dewan Penasehat The Habibie Centre.Mungkin tak banyak yang tahu kalau tanggal 29 mei adalah hari lanjut usia, saya saja baru tahun ini betul-betul hafal kalau setiap tanggal 29 mei adalah sebuah hari istimewa kepada para orang tua. Coba anda Tanya kepada anak-anak kita, saya yakin mereka tidak ada yang tahu, banding jika yang ditanya hari valentine Day atau April Move pasti mereka hafal diluar kepala. Kenapa ini terjadi, hemat saya karena beberapa hal : Hari lansia ini tidak memiliki nilai bisnis, sehingga tidak dapat dijual, karena tidak dapat dijual maka pasti tidak akan menjanjikan keuntungan materi. Sadar atau tidak, saat ini otak kita hampir terjajah dengan sempurna akan paham materialis,segala sesuatu ukurannya adalah materi. Berbeda dengan Valentine day ada banyak hal yang bisa dijual, hotel akan bersaing menyambut para pelanggan yang telah menunggu moment itu sejak lama. Televisi telah mempersiapkan program acara yang bertema valentine jauh-jauh hari. Hari tua identik dengan menurunnya penghasilan, dan menrunnya minat untuk melakukan hal-hal baru, hari tua juga identik dengan tinggal dirumah memperbanyak dzikir, sehingga issu lansia merupakan issu yang tidak layak jual, karenanya para pemilik modal (kapitalis) kurang tertarik dengan moment ini. Belum ada sebuah usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menggebyarkan hari lansia. Harusnya ini menjadi kerja bersama lintas departemen, sebab penanganan lansia bukan sekedar kewajiban Departemen Sosial tapi merupakan tanggung jawab bersama. Selanjutnya menular kedunia usaha dan orsos/LSM. Sebagai langkah awal Departemen Sosial sebagai leading sector penanganan lansia dapat menggerakkan setiap unit untuk memeriahkan Hari Lansia (HALUN) dengan berbagai kegiatan, bukan saja Direktorat Lansia atau pun panti lansia, tapi semua direktorat dan semua panti yang ada di Departemen Sosial mesti merayakan hari lansia dengan semarak. Misalnya saja panti cacat merayakan lansia dengan mengunjungi para lansia baik yang tinggal dirumah maupun yang tinggal dipanti. Hari Lanjut usia international (International Day of older Persons) ditetapkan Sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No.45/106 tanggal 14 Desember 1990. Penetapan hari Lansia international merupakan kelanjutan dari Vienna international Plan Action on Aging (“Vienna Plan”) yang diputuskan di Wina tahun 1982 dengan resolusi No. 37/1982 yang melahirkan kesepakatan untuk mengundang bangsa-bangsa yang belum melaksanakan agar menetapkan hari bagi lanjut usia. Hari Lanjut Usia Nasional dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soharto di Semarang pada tanggal 29 Mei 1996 untuk menghormati jasa Dr.KRT Radjiman Wediodiningrat yang usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI).(Sumber:www.wikipedia.org/wiki). Jasa Almahrum Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat pada 29 Mei 1945 memimpin sidang pertama BPUPKI yang mengandung nilai perjuangan dan dilakukan dengan penuh kearifan serta berbobot. Radjiman Wediodiningrat sebagai personifikasi mewakili golongan lanjut usia (lansia). Diharapkan generasi berikutnya mencontoh dan mempunyai nilai-nilai kejuangan serta sifat-sifat luhur lainnya sebagaimana diteladankan generasi pendahulu (Soemartono,Suara Merdeka:29 Mei 2005) Mengapa kita perlu menggebyarkan hari lansia?setiap orang termasuk lansia memiliki hak untuk menikmati kehidupannya, HALUN berarti bentuk kepedulian dan perhatian Negara kepada para penduduk senior, pada hari itu juga kita bisa melakukan refleksi menggali kerifan lokal/nasional tentang tingginya status dan kedudukan orang tua baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat terutama dalam konteks budaya ketimuran. Tidak semua lansia berarti ketidakberdayaan atau ketergantungan banyak lansia yang justru mencapai puncak kariernya justru setelah melewati usia 60 tahun, Pelukis ternama almahrum affandi di usia 80-an masih terus aktif melukis, Prof Dr Boedi Darmojo masih aktif cermah dimana-mana termasuk luar negeri, walaupun usiaya diatas 80 tahun, beberapa tokoh international seperti Gladststone memimpin kabinet inggris dalam usia 80 tahun. Plato meningal dunia dalam usia 80 tahun sedang giat bekerja. Galileo menemukan ilmu gaya gerak (gerak) dalam usia 70 tahun. James watt ahli ilmu alam Inggris mempelajari bahasa Jerman dalam usia 85 tahun, Bertrand Ruessel pada usia 94 tahun masih aktif sebagai tokoh penggerak perdamaian international (Soemartono,Suara Merdeka:29 Mei 2005).HALUN adalah moment yang tepat untuk memberikan penghargaan kepada para lansia yang memiliki prestasi atau karya yang bisa menjadi spirit/teladan bagi generasi penerus. Beberapa tokoh pengusaha seperti: Soebronto Laras (65) merupakan tokoh personifikasi Suzuki Indonesia, Aksa Mahmud yang kini usia telah 63 tahun masih aktif sebagai pengusaha dan anggota DPD utusan Sulawesi Selatan.KH.Ali Yafie ulama ahli fiqih yang kini berusia 82 tahun masih aktif mengasuh beberapa pesantren disulawesi selatan, Sebagai dosen diberbagai perguruan tinggi seperti Asyafi’iyah, Institut Ilmu Al-qur’an, UIN Syarif Hidayatullah,aktif sebagai Dewan Penasehat ICMI dan Dewan Penasehat The Habibie Centre. Saya pernah bertemu dengan seorang pria berusia 69 tahun namanya H.Nurdin adam, beliau seorang pensiunan, saat ini sedang mengambil kuliah S1 jurusan Administrasi Negara disalah satu Pergurun tinggi swasta di Makassar. Yang menarik dari sosok yang memiliki 4 anak ini bahwa diusianya yang hampir 70 tahun semangatnya untuk belajar luar biasa, dia menyelesaikan SLTAnya sekitar 43 tahun yang lalu. Semangat apa yang bisa kita ambil dari tokoh yang setiap hari berlatih jalan kaki 2-3 jam, bahwa dihari tuanya dia tidak ingin menghabiskan waktu hanya sekedar menunggu mati, dia ingin mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang baru dan menantang. Saya begitu terkagum-kagum dengan semangat pak haji ini, semangat yang saya yakin setiap generasi muda kita saja belum tentu memilikinya. Karenanya semangat ini perlu ditularkan, dan saya kira hari lansia ini merupakan moment yang paling stretegis untuk menggebyarkan kembali semangat juang para lansia, untuk ditularkan kepada generasi penerus. Pada momen ini merupakan saat dimana para lansia perlu berbicara tentang apa yang telah mereka lakukan bagi bangsa ini dan apa yang belum dikerjakan dan perlu diterusan oleh generasi muda. Ketuaan bukan sekedar penurunan fisik dan kemampuan intelegensi akan tetapi dibalik itu ada kisah/cerita perjalanan hidup ada semangat perjuangan mereka untuk mencapai sukses yang perlu ditularkan. Karenanya HALUN bukan *****a miliki para lansia tapi anak-anak muda pun butuh untuk mengikutinya. Mengapa tidak kita kemas suatu kegiatan yang isinya adalah menggali kisah sukses tokoh-tokoh yang sukses yang saat ini telah lansia, ataupun dialog lintas generasi, dimana lansia dan anak muda berkumpul bersama untuk saling mendengarkan, untuk mereduksi konflik nilai antara orang tua dan anak muda. Sebuah forum dialog yang mencoba merekonstruksi budaya menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Selai itu ada beberapa hal yang bisa dibangun lewat pelaksanaan hari lansia : Peningkatan kualitas lansia dengan mengkampanyekan semangat untuk menikmati hari tua. Banyak orang yang takut menghadapi masa tua karena asumsinya jika sudah tua, maka fisik akan makin lemah, berpenyakit, cepat lupa, penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat hidup makin terbatas(Jacinta F.Rini:2001). Oleh karena itu semangat menikmati hati tua perlu digelorakan, Seperti dikemukakan oleh sartono Mukadis (psikolog) saat peluncuran Yayasan Kencana “pada usia saya saat ini, saya mengantisipasi agar tidak mengalami kematian psikologis dan kematian sosial. Kematian psikolgis berupa kebencian dan kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tidak berguna lagi. Sedangkan kematian sosial adalah perasaan tidak dibutuhkan dan menjadi beban bagi lingkungan sosial disekitar saya.” (Media Indonesia Online, 1 juni 2004). Agar bisa menikmati hari tua (masa pensiun) masih dari Jacinta F. Rini, memberikan beberapa kiat memasuki masa pensiun: menghadapinya secara rileks, banyak tersenyum dan tertawa akan memperbanyak teman yang memberikan keceriaan hidup, tidak terburu-buru dalam menjalani hidup (nikmati dan syukuri), buat rencana kegiatan harian, lakukan kegiatan sosial, manfaatkan waktu untuk hal-hal terbaik dalam kehidupan, tidak berdiam diri, hilangkan kesepian dan dekatkan diri dengan orang didekat anda, jaga kesehatan, kurangi kebiasaan buruk seperti merokok, mengungjungi tempat-tempat menarik, hubungi teman lewat surat, email atau telepon, kembangkan hobi, baca buku yang membangkitkan motivasi, kebiasaan berdoa dan berbincang-bincang serta berdiskusi dengan tuhan dll. Moment untuk mengkampanyekan semangat penghormatan kepada lansia dan pemberian prioritas kepada para lansia dalam pelayanan public. Keberadaan lansia sering dipersepsikan negative oeh masyarakat luas, seperti tidak berdaya, sakit-sakitan, tidak produktif, menjadi beban keuarga, masyarakat bahkan negara. Perlu ada sebuah standar pelayanan disetiap layanan-layanan public yang memberikan prioritas kepada lansia yang ditindak lanjuti dengan pemberian penghargaan kepada lnstansi tersebut sebagai lembaga yang sangat peduli kepada lansia. Lemahnya kepedulian layanan publik kepada lansia bisa kita lihat pada saat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT), berapa banyak lansia yang harus antri dan desak-desakan dengan orang-orang muda hingga akhirnya mereka kehabisan nafas dan jatuh pingsan. Jika layanan publik ini memiliki kesadaran akan perlindungan kepada lansia, seyogyayanya disediakan tempat khusus bagi para lansia untuk antri. Dan lebih bagus lagi jika semua lansia penerima BLT didata dulu kemudian mereka tidak perlu datang ke kantor pos tapi diantarakan langsung ke rumahnya. Itu baru salah satu contoh layanan public yang tidak berpihak pada lansia. Saya kira masih banyak yang lain. Momen untuk mengkampanyekan “tempat bagi lansia dalam keluarga” (semangat: three generation in one roof). Semangat ini perlu digalakkan dari sekarang, jika tidak kita akan mengalami krisis kemanusiaan. Di China ada sebuah budaya bahwa anak laki-lakilah yang memiliki kewajiban untuk merawat orang tuanya sementara di cina ada sekitar 30 % perempuan cina tidak memiliki anak laki-laki sehingga mereka akan mengalami keterlantaran. Semangat keluarga sebagai tempat yang paling baik bagi lansia dan keluarga memiliki kewajiban untuk memberikan perawatan yang terbaik, perlu terus dipertahankan sebab jika tidak maka akan banyak sekali lansia yang akan hidup terlantar. Sementara institusi pengganti keluarga seperti panti werdha baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat tidak memadai dibandingkan dengan jumlah lansia yang terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Moment untuk melakukan penyadaran tentang berbagai aktivitas atau pola hidup yang menjaga kualitas hidup dimasa lansia. Penyuluhan dan kampanye pola hidup sehat bagi lansia perlu terus digalakkan, karena masih banyak lansia kita yang tidak/rendahi pengetahuan tentang pola hidup sehat. Penulis : syamsuddin (http://bp.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=644)

Jumat, 23 Mei 2008

Selasa, 20 Mei 2008

Kloning Terapi


Dolly Cloning


Hasil Kloning







Kloning Tikus


Info Kloning


Terapi Kloning


Siklus Hidup dari Plasmodium


KEMOTERAPI

Pendahuluan
- Mula-mula digunakan istilah kemoterapi tahun 1900 oleh Paul Erlich
- Kemoterapi : Zat- zat yang dapat menghentikan pertumbuhan dari sel kanker.
- Kemoterapi: umumnya bersifat paliatif; yaitu meringankan gejala tanpa mempengaruhi secara
pasti jalannya penyakit selanjutnya (dapat memperpanjang waktu hidup)
- Kemoterapi bersifat kuratif : jika terapi dimulai sedini mungkin yaitu pada kanker darah,
kanker testis.
-Kemoterapi - kurang efektif: pada tumor yang tumbuhnya perlahan dengan sedikit sel yang
sedang membelah. Msalnya : kanker paru-paru, usus besar, kanker hati, rahim
- Kemoterapi tidak efektif: terhadap kanker ginjal dan kanker leher rahim.

Pembagian respon tumor terhadap kemoterapi: (cancer terapi)
A. Sembuh dengan Kemoterapi:
ALL, AML, Ewing Sarkoma, Gestyasional trofoblastik Ca, Hodkins disease, Ca
Testis, Wilm’s Tumor, LNH, Rhabdomyosarkoma.
B. Kemoterapi mempunyai aktivitas yang bermakna:
Ca anus, Ca bladder, Ca mammae, CLL, CML, Ca endometrium, Ca kepala dan
leher, Kanker paru sel kecil, Multiple Myeloma, Limfoma folikuler, Ca ovarium,
Hairy cell leukemia.
C. Kemoterapi mempunya aktivitas minor:
Tumor otak, Ca cervix, Ca kolorectal, Ca Prostat, Hepatoseluler karsinoma,
tumor paru non small sell, melanoma, sarkoma kaposi, Ca pankereas, Ca
gaster, Ca sell ginjal, sarkoma jaringan lunak.
D. Kemoterapi Ajuvan Efektif:
Ca mammae ( KGB aksila (+), Ca colorectal (Dukes B2 atau C) sarkoma
osteogenik, Ca ovarium (stadium III), Ca testis.

Kemoterapi Kombinasi:
Terbukti manfaat penggunaan beberapa obat kemoterapi secara bersamaan dibanding pemberian obat kemoterapi tunggal hampir pada semua kanker.
1. Diberikan obat kemoterapi yang jelas terapinya secara tunggal cukup tinggi
2. Toksisitasnya tidak tumpang tindih sehingga lebih berat terhadap satu organ.
3. Bisa diberikan secara bersamaan sehingga intensitas obat bertambah kuat, tetapi efek
samping tidak bertambah.
4. Diberikan secara dose intensity.

Dose intensity adalah :
- Tepat dosis ( sesuai luas permukaan tubuh), tepat jadwal.
- Jarak waktu antara 2 siklus harus cukup pendek sehingga hanya memberiwaktu
kesempatan pulih sel-sel normal

Kemoterapi sebagai pengobatan kanker:
1. Pengobatan induksi:
-Untuk tumor-tumor non solid atau kasus lanjut karena tidak ada pilihan cara
pengobatan lainnya.
- disebut juga pengobatan penyelamatan (salvage)
2. Kemoterapi Ajuvant:
Pengobatan tumor primer dikontrol dengan cara lain ( bedah/ Radiasi)
Diyakini masih adanya sisa sel-sel tumor yang sukar dideteksi sehingga perlu tambahan kemoterapi.
3. Kemoterapi Primer:
Kemoterapi sebagai pengobatan pertama sebelum pengobatan lain ( bedah/ radiasi)
4. Kemoterapi Neo-adjuvant:
Setelah pengobatan bedah/ radiasi ditambahkan kemoterapi atau dilanjutkan kkembali kemoterapi.

Efek samping kemoterapi:
1. Efek samping cepat atau akut ( immediate):
terjadi dalam beberapa detik sampai 30 menit (syok anafilaktik, aritmoia cordis, nyeri daerah suntikan).
2. Efek samping segera (early)
terjadi dalam 30 menit sampai 72 jam ( mual,muntah, demam, reaksi hipersensitifitas, flu-like syndrome, sistitis).
3. Efek samping agak lambat (intermediate)
-terjadi dalam 72 jam- beberapa hari, misal: depresi sum-sum tulang ( Anemia, Leukopenia, trombositopenia): terjadi sesudah 1-3 minggu ( obat mielosupresi pada umumnya) atau 4-6 minggu ( gol nitrosurea)
- stomatitis, diare, alopesia, neuropati perifer, ileus paralitik, toksisitas pada ginjal, penekanan sistim kekebalan tubuh.
4. Efek samping lambat (late)
terjadi pada beberapa bulan, misalnya :
- hiperpigmentasi kulit
Kerusakan pada organ vital
jantung : dexorubisin
Paru : bleomisin-busulfan
Hati : Metotrexat.
- Efek pada sistim reproduksi ( Amenore, spermatogenesis menurun)
- Perubahan sistim endokrin (feminisasi, virilisasi)
- Efek Karsinogenik (kanker sekunder)

Pengelolaan simtomatik post kemoterapi:
Nausea dan vomitus
- golongan fenotiazin= lini pertama
- Domperidon ><> 20000/mm
e. Infeksi
f. Oleh karena defisiensi imunologi yang berhubungan dengan keganasan.
Efek kemotherapi
Perlu dilakukan kultur darah, urin, sputum swab faring.

Pemberian Kemoterapi
Dapat dengan suntikan (iv,IM, atau subkutan) dapat dengan cara khusus, yaitu:
1. suntikan intrathecal lewat pungsi lumbal
2. suntikan intrapleura untuk melekatkan pleura viceralis dan pleura parietalis
3. suntikan intra arteri seperti intra arteri hepatis
4. suntikan intra peritoneal seperti peritoneal dialisis untuk pengobatan cairan asites yang
maligna
5. kemoterapi sebagai radiosensitizer è kemoterapi disuntik segera sebelum atau tepat
bersamaan waktu penyinaran.
- Peroral contohnya Altretamine, ATRA, Busulfan, 6-Thioguanin, treosulfan, calsiumfolinate,
capecitabine, trofosfamid, chlorambucil, siklofosfamide/iv, dll.Procarbazin, mercaptopurine,
MTx/ iv,im,ith
- Intra thecal: Cytarabine/iv,im, sc;mtx.
- Intra pleura: Bleomicin.
- Intraarteri: Bleomicin, cisplatin, dactinomycin, dexorubicin, 5fu, etoposide, melphalan,
mitomysin, nimustine, dll
- Intraperitoneal : carboplatin, cisplatin, 5 fu (u/acites), mitotraxone.
- Intra hepatika : mitoxantone

Kontra Indikasi Kemoterapi
A. Kontra indkasi absolut:
- pada stadium terminal
- Kehamilan trimester pertama
- Kondisi septikemia dan koma.
B. Kontra indikasi relatif :
- Bayi <>8g/dl, leukosit > 3000/mm3

Pedoman penyesuaian dosis obat sitostatika:
jml leukosit jml plateled dosis
>4000 >10000000 100%
3500-4000 > 75000-100000 75%
3000-3500 50.000-75.000 50%
<3000 <50.000 0%

2. BMP : Pada kasus dengan kelainan darah perifer è untuk penetapan diagnosa dan stadium.

3. Fungsi liver, Ureum, kreatinin, kreatin klears asam urat, LDH

D. Pemeriksaan radiologis:
-Foto Thoraks
-Bone survei ( mis: pada mieloma atau kanker payudara)
-Bone scan
-CT Scan, Limfangiografi,MRI.

Minggu, 18 Mei 2008

Evidence Based Medicine pada aspek diagnosis

Evidence Based Medicine (EBM) terhadap aspek diagnosis
Diagnosa dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menggunakan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, pemeriksaan penunjang serta tes lain untuk mengidentifikasi penyakit pada pasien.
Ada beberapa cara yang digunakan oleh seorang dokter dalam mendiagnosis pasien:

Algorithmic: cara diagnosis ini layak untuk suatu penyakit tertentu. Sebagai contoh,suatu pendekatan dengan algorithmic, sangat berguna untuk suatu keadaan dimana informasi pasien (misalnya hasil laboratorium) adalah akurat seperti anemia atau penyakit lever
Pattern recognition: cara ini biasanya digunakan oleh seorang dokter pada pengamatan pertama, untuk mendiagnosa kondisi umum pasien seperti radang saluran kencing ataupun sinusitis.
Exhaustive: cara diagnosis ini digunakan untuk penyakit yang telah gagal didiagnosis dengan cara lain. Hal ini biasanya dilakukan pada rumah sakit rujukan yang menerima pasien rujukan, yang belum ditentukan diagnosisnya. Karena itu dikumpulkan semua data yang memungkinkan dari pasien tersebut tersebut untuk membuat diagnosis.
Hypotheticodeductive: cara mendiagnosis jenis ini yaitu dengan membuat diferensial diagnosis, melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terus menerus dan hasilnya digunakan untuk memperbaiki perbedaan diagnosis dan demikian seterusnya, sehingga diperoleh diagnosis akhir.

Untuk setiap cara mendiagnosis diatas, yang penting adalah menggunakan
informasi yang akurat yang dikumpulkan dari pasien. Hal ini berarti harus mencari sebanyak-banyaknya gejala, tanda-tanda, atau hasil-hasil tes yang dikumpulkan dari pasien tersebut. Ini dimaksudkan untuk mencari atau menentukan kemungkinan terdapatnya penyakit pada pasien tersebut (likelihood of a given disease). Proses inilah yang disebut dengan revising the probability of disease.

Menilai Relevansi dan Validitas Makalah Diagnosis
Sebagai contoh, scaning memberikan informasi yang akurat tentang penyakit dari organ-organ tubuh manusia, tetapi tidak praktis untuk dipakai pada komunitas. Biopsi otak juga akurat untuk mendiagnosis enchepalitis, tetapi tidak praktis bila diterapkan pada pasien kita karena memilikki resiko yang tinggi. Jadi tes diagnosis merupakan suatu tes yang feasible untuk diterapkan pada pasien kita.
Bila tes diagnosis diterapkan pada pasien dengan sakit yang berat dan pasien sehat, maka hal ini akan membuat penampilan tes diagnosis tersebut jauh lebih baik dari yang sebenarnya. Oleh karena itu pada penelitian tentang tes diagnosis, tes diagnosis tersebut harus dikerjakan pada pasien yang memilikki spektrum gejala dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Dalam penelitian tersebut juga dimasukkan pasien-pasien yang memilikki gejala yang mirip (similar manifestation).
Sebagai contoh pada diagnosis infark miokard, harus juga dimasukkan pasien yang memilikki gejala seperti spasme kerongkongan, nyeri karena penyakit kandung empedu dan sebagainya.
Apakah penulis menggunakan standar referensi yang masuk akal ? Contoh lain, misalnya pada penelitian diagnosis faringitis yang disebabkan oleh kuman streptokokus, dengan menggunakan titer anti streptolisin O (titer ASO)., hal ini mungkin ideal digunakan sebagai standar referensi. Selain itu juga kultur dan biopsi yang dilakukan pada pasien yang memiliki hasil tes diagnosis negatif merupakan satu-satunya tujuan yang dianggap tidak etis karena invasif. Tes diagnosis dan tes referensi sebagai pembanding harus dikerjakan pada satu orang dan harus blind.
Diagnosis bukan suatu cara untuk mendapatkan kebenaran absolut, tetapi berfungsi membatasi ketidaktahuan, menetapkan dasar-dasar logis untuk membuat probabilitas dan memahami batasan tes terapi (treatment tresholds test).
Untuk menilai aspek diagnosis dengan menggunakan EBM dapat diikuti petunjuk sebagai berikut :
Apakah Bukti Mengenai Tes Diagnosis Ini Adalah Valid ?

Apakah dilakukan suatu pembanding yang independen dan blind dengan standar referensi diagnosis ?
Apakah tes diagnosis ini dievaluasi pada spektrum pasien yang tepat (seperti pada pasien yang biasanya kita ukur dengan tes tersebut ?
Apakah standar referensi diaplikasikan terlepas dari hasil tes diagnosis ?
Apakah tes (atau kelompok tes) divalidasi dalam kelompok pasien yang kedua yang independen ?
Menurut EBM untuk mencapai kata kesepakatan dalam menginterpretasikan suatu
hasil tes diagnosis, para dokter harus mempunyai derajat kesepakatan (degree of agrement) dan dalam hal lain, kita sulit membedakan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Dalam EBM ada 6 definisi normal seperti :

Gaussian: mean ± 2 standar deviasi- ini adalah asumsi distribusi normal dari seluruh tes
Percentile: di dalam rentang 5-95% ; mempunyai dasar yang sama dengan pengertian Gaussian
Kultur yang diinginkan: jika normal adalah yang cenderung dilakukan oleh masyarakat.
Faktor resiko: menyebabkan tidak adanya tambahan resiko penyakit, tetapi apakah faktor resiko dapat merubah resiko ?
Diagnosis: rentang suatu hasil dimana diluar rentang tersebut kelainan target yang diinginkan memiliki probabilitas yang tinggi
Terapi: rentang hasil dimana diluar rentang tersebut terapi lebih baik daripada aspek merugikan

Bila kita melakukan beberapa kali tes diagnosis pada subyek akan terjadi sesuatu hasil yang menyimpang yang membawa kepada ketidaklayakan hasil tes selanjutnya. Dalam tes diagnosis, disebut normal apabila terdapat nilai rentang suatu hasil dan hasil diluar rentang tersebut merupakan kelainan target (target disorder) mempunyai probabilitas tinggi.
Sumber;
Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik Menurut Kedokteran Berbasis Bukti. Oleh DR. Dr. Hananto Wiryo,SpA. Penerbit Sagung Seto-2002., hal 17-20.

Sabtu, 17 Mei 2008

Travel Disease Incidence


Incidence rate, per month, of health problems during a stay in developing countries. PCV, Peace Corps volunteer. (From Steffen R, Lobel HO: Epidemiologic basis for the practice of travel medicine. J Wilderness Med 5:56, 1994. Reprinted with permission from Chapman and Hall, New York.)

Peta Penyakit Infeksi di Dunia




Map of the world showing examples of geographic locales where infectious diseases were noted to have emerged or resurged. (Adapted from Addressing Emerging Infectious Disease Threats: A Prevention Strategy for the United States, Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention, 1994.)

Jumat, 16 Mei 2008

Deep Venous Thrombosis

Picture: Deep Venous Thrombosis with diffuse swelling at extremitas inferior dextra
Essentials of Diagnosis :
Pain in the calf or thigh, occasionally associated with swelling; alternatively, there may be no symptoms.
Risk factors: Recent travel; orthopedic injury; recent abdominal, pelvic, or lower extremity surgery; neoplasia (known or occult); oral contraceptive use; prolonged inactivity.
Physical signs unreliable.
Duplex ultrasound is diagnostic
Sumber:
1. Tierney et al. Current Medical Diagnosis & Treatment 2008. Mc Graw Hill-LANGE
2. Afzal. Atlast of Clinical Diagnosis. Second Edition. Saunders - 2003

Crohn's disease lips

Gambar bibir pada penderita penyakit Crohn.
Batasan :
Penyakit Crohn (CD) : inflamasi transmural idiopatik pada saluran pencernaan.
Epidemiologi :
Bimodus dengan puncak pada usia 20 dan 50-70 tahun;
Patologi:
Luasnya penyakit dapat mengenai bagian manapun dari saluran cerna, dari mulut hingga anus, skip lesions 30% pasien mengalami ileitis, 40% ileokolitis, dan 30% kolitis.
Sumber :
1. Afzal. Atlas of clinical diagnosis. econd Edition. Saunders 2003
2. Harrison's. IBD. In Principles of Internal Medicine, 17th Edition.2008

Palmar erythema

Gambar di atas merupakan tanda palmar eritema :
Dijumpai pada penderita hyperthyroidism dan chronic liver disease
Batasan :
"Palmar erythema is a bright-red cutaneous vasodilatation seen mainly over the thenar and
hypothenar eminences"

Printed from STUDENT CONSULT: Macleod's Clinical Examination 11E with availabel :
http://studentconsult.com/content/printpage.cfm?ID=HC002001

Pankreatitis Akut (Kriteria Ranson)

Kriteria Ranson (Faktor yg berpengaruh buruk pada kehidupan pasien pankreatitis akut)
A. Pada saat masuk rumah sakit:
1. Usia > 55 tahun
2. Leukositosis > 16.000/ml
3. Hiperglikemia > 11 mmol/L (>200 mg%)
4. LDH serum > 400 IU/L
5. AST (SGOT) serum > 250 IU/L

B. Selama 48 jam perawatan:
1. Penurunan hematokrit > 100%
2. Sekuestrasi cairan > 4000 ml
3. Hipokalsemia < 1,9 mmol/L (<8,0 mg%)
4. PO2 arteri < 60 mmHg
5. BUN meningkat > 1,8 mmol/L (> 5 mg%) setelah pemberian cairan iv
6. Hipoalbuminemia < 3,2 g%

Interpretasi klinik Kriteria ranson:
Kriteria awal menggambarkan beratnya proses inflamasi,sedangkan kriteria akhir waktu 48 jam menggambarkan efek sistemik aktifitas enzim terhadap organ target,seperti paru dan ginjal.
Bila score <> 6, mortalitas > 50% biasanya sesuai dengan pankreatitis nekrotikan.

Indikator penting yang harus diperhatikan:
1. Hipotensi (<90> 130 x/mnt
2. PO2 < 60 mmHg
3. Oliguria (< 50 ml/jam) atau BUN, kreatinin yang meningkat
4. Metabolik / Ca serum < 8,0 mg% atau albumin serum < 3,2 g%

Bronkhoskopi

Indikasi
1. Diagnostik :
a. Karsinoma bronkhus
b. Penyakit paru interstitial, misalnya sarkoidosis
c. Perselubungan yang menetap pada foto rontgen, misalnya pneumonia persisten
d. Gejala saluran pernafasan yang tidak dapat dijelaskan seperti hemoptisis dan wheezing
e. Mendapatkan sputum untuk pemeriksaan lebih lanjut

2. Terapi:
a. Menghentikan perdarahan dengan bilasan es/adrenalin
b. Pembilasan bronkhus (bronkhoalveolar lavage) pada retensi sputum, atelektasis,mucus
plug, bekuan darah
c. Obstruksi bronkhus pada karsinoma--> pengobatan dengan laser

Kontraindikasi :
1. Gagal jantung
2. Gagal nafas
3. FEV1 < 1,0 liter
4. Angina yang tidak stabil
5. Recent MCI

Persiapan
1. Pasien puasa minimal 6 jam
2. Foto thoraks PA dan Lateral
3. Cek masa pembekuan dan perdarahan
4. Izin tindakan dan inform consent
5. Alat dan obat :
a. Lidonest 2% 50 cc
b. Disposabel spuit 20 cc 3 buah
c. Disposabel spuit 2,5 cc 2 buah
d. Sulfas Atropin 0,25 mg 1-2 amp
e. Mucous collector 2 buah
f. Valium inj 1 amp (bila perlu)

Pungsi Cairan Pleura

Indikasi
1. Terapeutik : mengurangi sesak nafas
2. Diagnostik : pemeriksaan sitologi, kultur mikroorganisme (resistensi dan sensitifitas) thd BTA,jamur dan parasit

Kontraindikasi
1. Gagal jantung (yang belum diatasi)
2. Keadaan yang tidak dapat mentolerir komplikasi pneumotoraks
3. Keadaan umum sangat lemah sehingga tidak dapat duduk/setengah duduk
4. Jumlah cairan terlalu sedikit
5. Gangguan hemostasis yang belum diatasi
6. Pasien dengan positive pressure ventilation karena resiko fistel bronkhopleura dan tension pneumothoraks

Persiapan
1. Izin tindakan dan inform consent
2. Foto Thoraks PA
3. Foto thoraks lateral dekubitus (jika masih meragukan)
4. Masa perdarahan dan masa pembekuan
5. Alat dan obat:
a. Lidokain 2-4 amp
b. Disposabel spuit 2,5 cc 2 buah
c. Disposabel spuit 50 cc 1 buah
d. Three way 1 buah
e. Abocath no. 14 atau 16 1 buah
f. Blood set 1 buah
g. Bag penampung

Water Sealed Drainage (WSD)

Indikasi
1. Pneumothoraks
2. Hemothoraks
3. Empyema thoraks
4. Efusi pleura maligna
5. Prosedur setelah operasi intra thoraks

Kontraindikasi
1. Tidak ada kontraindikasi absolut
2. Bila ada gangguan hemostase/trombositopenia, sebaiknya diatasi terlebih dahulu

Komplikasi
1. Empyema thoraks
2. Laserasi paru
3. Perforasi diafragma
4. Luka mengenai lambung,hati dan limpa
5. Udema paru

Persiapan
1. Izin tindakan dan inform consent
2. Masa perdarahan dan masa pembekuan
3. Foto thoraks PA supine
4. Alat dan obat :
a. Trocar,kanula dan kateter
b. Botol WSD
c. Scalpel dan gunting
d. Larutan antiseptik dalam botol
e. Kassa steril dan plester
f. Lidokain 2% ; 3-4 ampul
g. Disposabel spuit 5 cc dan 10 cc, maing-masing 1 buah
h. Jarum no 22 dan 25

Pemeriksaan Faal Paru Prabedah

A. Pembedahan diluar abdomen dan thoraks
a. Resiko ringan bila ; VC > 60% dan FEV1 > 60%
b. Resiko sedang bila : VC > 30% dan FEV1 > 30%
c. Resiko tinggi bila ; VC < 30% dan FEV1 < 30%

B. Pembedahan abdomen bagian bawah :
a. Resiko ringan bila; VC > 60% dan FEV1 > 60%
b. Resiko sedang bila; VC > 35% dan FEV1 > 60%
c. Resiko tinggi bila: VC < 35% dan FEV1 < 60%

C. Pembedahan abdomen bagian atas:
a. Resiko ringan bila: VC > 60% dan FEV1 > 60%
b. Resiko sedang bila : VC > 40% dan FEV1 > 60%
c. Resiko tinggi bila : VC < 40% dan FEV1 < 60%

Menurut Lockwood, resiko tinggi bila :
a. VC < 1,85 liter
b. FEV1 < 1,2 liter atau VEF1 < 35%
c. MVV <> MVV = Maximal Voluntary Ventilation

Rumus Klinik Bagian Dua

Rumus Baku Hematologi

1. MCV = Ht/eritrosit x 10 (N:83-92)
2. MCH = Hb/eritrosit x 10 (N:27-31)
3. MCHC = Hbx100/Ht (N: 32-36)
4. SI: Wanita : 37-145
Laki-laki: 59-158
5. TIBC: Wanita: 150-250
Laki-laki: 200-300
6. HbA2 Normal < 35 ; HbF Normal < 1

Koreksi Retikulosit
Tahap I :
o/oo Rt aktual = o/oo Rt pasien x (Ht pasien/Ht normal)
Normal = 5 - 15 (o/oo) --> Ht normal wanita 42 dan laki-laki 38

Tahap II:
Indeks Retikulosit :
o/oo Rt aktual x [ (Ht pasien/Ht normal) x (1/masa pematangan Ht) ]
Ht --> Masa pematangan Ht
45 --> 1
35 --> 1,5
25 --> 2
15 --> 2,5

Sepsis dan Renjatan Sepsis

SEPSIS DAN RENJATAN SEPTIK
PENGERTIAN
Sepsis merupakan sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS) yang disebabkan oleh infeksi
Renjatan (syol) septik : sepsis dengan hipotensi, ditandai dengan penurunan TDS <90>40 mmHg dari TD awal, tanpa adanya obat-obatan yang dapat menurunkan TD
Sepsis berat : gangguan fungsi organ atau kegagalan fungsi organ termasuk penurunan
kesadaran, gangguan fungsi hati, ginjal, paru-paru, dan asidosis metabolik
DIAGNOSIS SEPSIS
SIRS ditandai dengan 2 gejala atau lebih berikut :
Suhu badan >38oC atau 36 oC
Frekuensi denyut jantung >90x/menit
Frekuensi pernafasan >24x/menit atau PaCO2 <32
Hitung leukosit >12.000/mm3 atau <4.000/mm3,>10% sel batang
Ada fokus infeksi yang bermakna
DIAGNOSIS BANDING
Renjatan kardiogenik, renjatan hipovolemik
PEMERIKSAAN PENUNJANG
DPL, tes fungsi hati, ureum, kreatinin, gula darah, AGD, elektrolit,kultur darah dan infeksi fokal (urin, pus, sputum, dll) disertai uji kepekaan mikroorganisme terhadap anti mikroba, foto toraks
TERAPI
· Eradikasi fokus infeksi
· Antimikroba empirik diberikan sesuai dengan tempat infeksi, dugaan kuman penyebab, profil antimikroba (farmakokinetik dan farmakodinamik), keadaan fungsi ginjal dan fungsi hati antimikroba definitif diberikan bila hasil kultur mikroorganisme telah diketahui, antimikroba dapat diberikan sesuai hasil uji kepekaan mikroorganisme
· Suportif : resusitasi ABC, oksigenasi, terapi cairan, vasopresor/inotropik, dan transfusi (sesuai indikasi) pada renjatan septik diperlukan untuk mendapatkan respons secepatnya
Resusitasi cairan. Hipovolemia pada sepsis segera diatasi dengan pemberian cairan kristaloid atau koloid. Volume cairan yang diberikan mengacu pada respons klinis (respons terlihat dari peningkatan tekanan darah, penurunan frekuensi jantung,kecukupan isi nadi, perabaan kulit dan ekstremitas, produksi urin, dan perbaikan
kesadaran) dan perlu diperhatikan ada tidaknya tanda kelebihan cairan (peningkatan tekanan vena jugularis, ronki, galop S3, san penurunan saturasi oksigen). Sebaiknya dievaluasi dengan CVP (dipertahankan 8-12 mmHG), dengan mempertimbangkan kebutuhan kalori perhari. Oksigenasi sesuian kebutuhan. Ventilator diindikasikan pada hipoksemia yang progresif, hiperkapnia, gangguan neurologis, atau kegagalan otot pernafasan
Bila hidrasi cukup tetapi pasien tetap hipotensi, diberikan vasoaktif untuk mancapai tekanan darah sistolik >90 mmHg atau MAP 60 mmHg dan urin dipertahankan >30 ml/jam. Dapat digunakan vasopresor seperti dopamin dengan dosis >8 􀈝g/kgBB/menit, neropinefin 0,03-1,5 􀈝g/kgBB/menit, fenilefrin 0,5-8 􀈝g/kgBB/menit, atau epinefrin 0,1-0,5 􀈝g/kgBB/menit. Bila terdapat disfungsi miokard, dapat digunakan inotropik seperti dobutamin dengan dosis 2-28 􀈝g/kgBB/menit, dopamin 3-8 mcg/kgBB/menit, epinefrin 0,1-0,5 mcg/kgBB/menit, atau fosfodiesterase inhibitor (amrinon dan milrinon).
Tranfusi komponen darah sesuai indikasi
Koreksi gangguan metabolik : elektrolit, gula darah, dan asidosis metabolik (secara
empiris dapat diberikan bila pH<7,2, atau bikarbonat serum <9 mEg/l, dengan disertai upaya perbaikan hemodinamik)
Nutrisi yang adekuat
Terapi suportif terhadap gangguan fungsi ginjal
Kortikosteroid bila ada kecurigaan insufisiensi adrenal
Bila terdapat KID dan didapatkan bukti terjadinya tromboemboli, dapat diberikan heparin dengan dosis 100 IU/kgBB bolus, dilanjutkan 15-25 IU/kgBB/jam dengan infus kontinu, dosis lanjutan disesuaikan untuk mencapai target aPTT 1,5-2 kali kontrol atau antikoagulan lainnya
KOMPLIKASI
Gagal nafas, gagal gianjal, gagal hati, KID, renjatan septik ireversibel
PROGNOSIS
Dubia ad malam
WEWENANG
· RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam
· RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam
UNIT YANG MENANGANI
· RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam – Divisi Tropik Infeksi
· RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam
UNIT TERKAIT
RS pendidikan : Divisi pulmonologi, ginjal-hipertensi, hematologi-onkologi, dan medical
high care / ICU
RS non pendidikan : ICU

Anonim. Tropik Infeksi. Dalam Panduan Pelayanan Medik. PB PAPDI. Editor Aziz Rani,
Sidartawan Sugondo, Anna Uyainah Z. Nasir, Ika Prasetya Wijaya, Nafrialdi, Arif
Mansjoer. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Tahun 2006, hal
137-153

Demam Tifoid

PENGERTIAN
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
DIAGNOSIS
· Anamnesis : demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu demam
menetap (kontinyu) atau remiten pada minggu kedua. Demam terutama sore / malam
hari, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare.
· Pemeriksaan Fisis : febris, kesadaran berkabut, bradikardia relatif (peningkatan suhu
1oC tidak diikuti peningkatan denyut nadi 8x/menit), lidah yang berselaput (kotor di
tengah, tepi dan ujung merah, serta tremor), hepatomegali,splenomegali, nyeri
abdomen, roseolae (jarang pada orang Indonesia).
· Laboratorium : dapat ditemukan lekopeni, lekositosis, atau lekosit normal,
aneosinofilia, limfopenia, peningkatan Led, anemia ringan, trombositopenia,
gangguan fungsi hati. Kultur darah (biakan empedu) positif atau peningkatan titer uji
Widal >4 kali lipat setelah satu minggu memastikan diagnosis. Kultur darah negatif
tidak menyingkirkan diagnosis. Uji Widal tunggal dengan titerantibodi O 1/320 atau
H 1/640 disertai gambaran klinis khas menyokong diagnosis.
Hepatitis Tifosa
Bila memenuhi 3 atau lebih kriteria Khosla (1990) : hepatomegali, ikterik, kelainan
laboratorium (antara lain : bilirubin >30,6 umol/l, peningkatan SGOT/SGPT, penurunan
indeks PT), kelainan histopatologi.
Tifoid Karier
Ditemukannya kuman Salmonella typhi dalam biakan feses atau urin pada seseorang
tanpa tanda klinis infeksi atau pada seseornag setelah 1 tahun pasca-demam tifoid.
DIAGNOSIS BANDING
Infeksi virus, malaria
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah parifer lengkap, tes fungsi hati, serologi, kultur darah (biakan empedu)
TERAPI
Nonfarmakologis : tirah baring, makanan lunak randah serat
Farmakologis :
Simtomatis
Antimikroba :
Pilihan utama : Kloramfenikol 4 x 500mg sampai dengan 7 hari bebas demam.
Alternatof lain :
Tiamfenikol 4 x 500 mg (komplikasi hematologi lebih rendah dibandingkan
kloramfenikol)
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 2 minggu
Ampisilin dan amoksisilin 50-150 mg/kgBB selama 2 minggu
Sepalosporin generasi III ; yang terbukti efektif adalah seftriakson 3-4 gram
dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari.
Dapat pula diberikan sefotaksim 2-3 x 1 gram, sefoperazon2 x 1 gram
Fluorokuinolon (demam umumnya lisis pada hari III atau menjelang hari IV) :
Norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
Ofloksasin 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari
Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari
Pada kasus toksik tifoid (demam tifoid disertai gangguan kesdaran dengan atau tanpa
kelainan neurologis lainnya dan hasil pemeriksaan cairan otak masih dalam batas normal
langsung diberika kombinasi kloramfenikol 4 x 500 mg dengan ampisilin 4 x 1 gram dan
deksametason 3 x 5 mg.
Kombinasi antibiotika hanya diindikasikan pada toksik tifoid, peritonitis atau perforasi,
renjatan septik.
Steroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid atau demam tifoid yang mengalami
renjatan septik dengan dosis 3 x 5 mg
Kasus tifoid karier
Tanpa kolelitiasis 􀄺 pilihan rejimen terapi selama 3 bulan :
- Ampisilin 100 mg/kgBB/hari + Probenesid 30 mg/kgBB/hari
- Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari + Probenesid 30 mg/kgBB/hari
- Kotrimoksazol 2 x 2 tablet/hari
Dengan kolelitiasis 􀄺 kolesistektomi + regimen tersebut di atas selama 28 hari atau
kolesistektomi + salah satu rejimen berikut :
- Siprofloksasin 2 x 750 mg/hari
- Norfloksasin 2 x 400 mg/hari
Dengan infeksi Schistosoma haematobium pada taksus urinarius 􀄺 eradiksi
Schistosoma haematobium :
Prazikuantel 40 mg/kgBB dosis tunggal, atau
Metrifonat 7,5-10 mg/kgBB bila perlu diberikan 3 dosis, interval 2 minggu
Setelah eradiksi berhasil, diberikan rejimen terapi untuk tifoid karier sepertidi atas
Perhatin : Pada kehamilan fluorokuinolon dan kotrimaksazol tidak boleh digunakan.
Kloramfenikol tidak dianjurkan pada trimester III. Tiamfenikol tidak dianjurkan pada
trimester I. Obat yang dianjurkan golongan beta laktam : ampisilin, amoksisilin, dan
sefalosporin generasi III (sefriakson)
KOMPLIKASI
Intestinal : perdarahan intestinal, perforasi usus, ileus paralitik, pankreatitis.
Ekstra-intestinal : kardiovaskular (kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, trombosis,
tromboflebitis), hematologik (anemia hemolitik, trombositopenia, KID), paru
(pneumonia, empiema, pleuritis), hepatobilier (hepatitis, kolesistitis), ginjal
(glomerulonefritis, pielonefritis, perinefritis), tulang (osteomielitis, periostitis, spondilitis,
artritis), neuropsikiatrik (toksik tifoid)
PROGNOSIS
Baik. Bila penyakit berat, pengobatan terlambat/tidak adekuat atau ada komplikasi berat,
prognosis meragukan/buruk
WEWENANG
· RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam
· RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam
UNIT TERKAIT
· RS pendidikan : Departemen Bedah digestif
· RS non pendidikan : Departemen Bedah

Sumber
Anonim. Tropik Infeksi. Dalam Panduan Pelayanan Medik. PB PAPDI. Editor Aziz Rani,
Sidartawan Sugondo, Anna Uyainah Z. Nasir, Ika Prasetya Wijaya, Nafrialdi, Arif
Mansjoer. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Tahun 2006, hal
137-153